Langsung ke konten utama

Surganya Surga.

Saya belajar jalan - jalan - terjatuh - bangun - melangkah kembali - menata langkah demi langkah - jalan ditempat - jalan perlahan - hingga berlari - dari beliau.
Bukan hanya bagaimana cara melangkah dalam konteks jalan biasa, tetapi bagaimana melanjutkan proses kehidupan dengan terus bertumbuh dan berdaya.


Saya belajar akan hal tersebut dari surga saya; IBU.
Adalah beliau, yang nyawanya sempat hampir hilang ketika memperjuangkan hadirnya mahluk-mahluk baru di dunia.
Adalah beliau, sosok yang derajatnya 3 tingkatan lebih tinggi dihadapan Allah semata.
Adalah beliau, yang sosoknya tercantum dalam firmanNya.

Bahkan hari ini, ketika anak gadisnya menmgeluh tentang hal-hal yang sifatnya duniawi, beliau dengan lembutnya mendengarkan, memaknai, hingga mengarahkan pun menasihati, dengan caranya; yang lembut nan indah.

Laa khawla walaa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adziim

Abadi perjuanganmu, Bu :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pukul 5 lewat, Matematika? Hehe Atau Budaya Antre? Jadi lebih penting mana?  - Cerita dulu, Australia lebih menekankan budaya antre dengan tertib daripada Matematika. Lho? Why?  Tanpa kita sadari, budaya antre itu sangat penting. Ketika dalam kemacetan, antrean menunggu, budaya ini sangat penting. Karena ke-tertib-an yang diutamakan. Bukan soal siapa cepat dia dapat. Tapi, keadilan. Yang datang dulu siapa? Yang pertama siapa?  Sayang sekali, Indonesia belum menekankan budaya antre seperti ini. Susah memang, apalagi jika tidak tertanam ke-tertib-an pada individu masing-masing. Pendapat saja, usahakan, minimal ada 1 buku di setiap tas yang kita bawa. Entah buku apa, bacaan, fiksi, non-fiksi, apapun itulah. Sangat perlu, WHY? Ketika antre, kita bisa baca bukuuuuu dudeee! Tanpa memainkan gadget (hehe, padahal sendirinya iya) . Tentu yang baca kali ini tahu kalau buku itu segalanya, buku itu jendela ilmu , dengan buku kita bisa menambah wawasan kita , buku ...

Hanyalah titipan~

Karena pada dasarnya semua itu adalah titipanNya. Sama halnya dengan suara ombak, kemarin kamu masih mampu mendengarkan desiran ombak di Pulau itu. Besok? Mungkin kamu masih berkesempatan mendengarkan, entah di pulau yang sama, ataupun berbeda. Atau bahkan, kamu masih bisa mendengarkan suara ombak itu hingga kamu tidak mampu berkunjung di pantai itu. Kemampuanmu mendengarkan suara-suara ombak itu diumpamakan perkataan dari dalam jiwamu. Hingga pada waktunya nanti, suara-suara ombak itu tak mampu lagi kamu dengarkan, hanya manusia yang masih dititipkan nyawa olehNya lah yang mampu mendengarkan. Dan, entah siapa yang lebih dulu. Hanya Dia Yang Maha Mengetahui.